Suatu tempat di Indonesia tengah

Akhir november tahun 2012 yang lalu, gw berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pulau di bagian tengah Indonesia. Hayoooo tebak, pulau apakah itu?

Pasti semua pada serempak mau nyebut nama satu pulau, BALI!

Wek,salah! :p

Bukan Bali lho, masbro, mbakyu!

Yang benar, november tahun lalu gw diberi kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di pulau Lombok. Entah kenapa,  gw sudah tidak terlalu berminat untuk kembali mengunjungi Bali lagi. Nanti-nanti aja deh ke Bali lagi kalau dapat tiket superrr murah :p

Sudah sedari dulu gw mendengar keindahan pulau Lombok, tapi karena keterbatasan waktu, akhirnya baru tahun lalu bisa mendarat di pulau yang terkenal akan keindahan pantai-pantainya itu. Sebelum pergi, seperti biasa, paman google jadi teman setia untuk berbagi informasi. Gw anti mati gaya. Setidaknya, gw harus tau apa yang akan dilakukan selama berada disana. Kebetulan gw punya kesempatan selama 5 hari 4 malam untuk benar-benar bisa menjelajahi Lombok. Berhubung gw pencinta berat pantai, jadi sengaja selama 5 hari itu dimaksimalkan untuk mengunjungi pantai-pantai indah yang ada di Lombok sekaligus wisata kuliner.

FYI, Lombok itu bukanlah pulau yang punya banyak jalur angkot untuk bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang kamu inginkan, jadi cara paling cerdas untuk bisa menggapai tempat-tempat wisata yang ada di dalam list adalah dengan menyewa mobil travel berikut guide lokal yang siap sedia mengantarkan kita ke tempat tujuan. Mahal nggak? Menurut lo, 400 ribu/hari sudah termasuk bensin dan guide yang sekaligus menjadi supir itu murah atau mahal? Kalo menurut gw, harga segitu sih murah banget, soalnya tempat wisata di lombok itu jauh-jauh loh. Biasanya mobil yang dipakai adalah avanza, jadi kalau mau murah, usahakan perginya bertiga atau berempat, jadi biaya yang dikeluarkan jatuhnya lebih murah, kan dibagi 3 atau dibagi 4 hehehhe.

Untuk masalah penginapan, kebetulan waktu itu gw menginap 3 malam di senggigi dan semalam di Gili Trawangan. Gak usah kepikiran untuk menginap di hotel sekelas Jeeva Klui atau Senggigi Beach Hotel yang harga per malamnya menyetuh angka jutaan tapi pada kenyataannya malah akses ke tempat-tempat nongkrong atau mau nyari resto di luar hotel pake acara menderita dulu. Ingat, mobil travel sewaan itu biasanya mengantar kita hanya dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam saja, kalau mau extend, siap-siap kena tambahan biaya ya. Waktu itu gw minta dicarikan penginapan oleh guide lokal yang gw sewa. Gw cuma bilang, untuk tempat menginap, tolong carikan hotel yang nyaman, aman, dekat dengan tempat nongkrong, ada AC , ada air panas untuk mandi dan harganya gak begitu mahal. Untuk ‘mission impossible’ seperti itu, ternyata guide gw berhasil mendapatkan sebuah penginapan yang jauh melebihi ekspektasi gw. Bayangkan saja, sebuah penginapan yang baru dibangun, terletak di pusat kota Senggigi, dengan kondisi kamar luas selayaknya hotel bintang 4, plus 1 ekstra bed, pakai AC, ada air panas untuk mandi, ada tv, ada koneksi wifi hanya dihargai 350 ribu/malam! ekstra bed tambah 50 ribu/malam kalau gak salah. Lokasinya dekat banget dengan kafe-kafe dan restoran. Wow! Gimana enggak happy coba? ^^

Gw pergi ke Lombok bersama dengan kedua teman gw yang lainnya, menggunakan pesawat pagi dari Jakarta. Setelah 2 jam penerbangan, akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Praya. Di luar, guide lokal yang  kami sewa sudah menunggu kami dengan keramahan khas orang Indonesia 🙂

Hari pertama kami langsung mengunjungi Pantai Kuta Lombok. Pantai Kuta Lombok terkenal akan pasirnya yang mirip dengan merica, bulat-bulat kecil. Agak susah untuk berjalan diatas pasir-pasir merica ini, karena begitu menapakkan kaki, pasir seolah-olah menelan kaki hingga masuk agak dalam. Butuh perjuangan untuk melangkah, tapi begitu melihat jernihnya air laut dan tenangnya pantai yang seolah-olah tak berombak membuat gw terhipnotis. Yeahh, sepertinya gw mulai jatuh cinta dengan Lombok!

pantai kuta lombok    pasir kuta lombok

Setelah puas bermain di Pantai Kuta Lombok, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Aan. ada sebuah bukit di pantai dan kalau kita naik keatas bukit itu, pemandangan dari atas bukit itu luar biasa spektakuler. Gw aja sampai menahan napas saking gak kuat lihat pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Sayang keindahan pantai ini agak terganggu oleh pedagang-pedagang yang menawarkan gelang dan kain songket Lombok dengan nada sedikit memaksa. Pedagang-pedagang ini membuntuti kami kesana-kemari dan dengan nada sedikit memelas meminta untuk membeli dagangan mereka. Arghhh! Untung guide kami cepat tanggap, dengan memakai bahasa Sasak, beliau menegur para pedagang yang kebanyakan masih anak-anak dan remaja, untuk segera menjauh dari kami agar kami bisa menikmati keindahan Tanjung Aan. Cara ini terbukti efektif. Guide lokal memang tau bagaimana kondisi di lapangan dan cara mengantisipasinya. Foto dibawah ini diambil ketika kami berada diatas bukit. Rasanya luar biasa ketika kami bisa tiduran diatas bukit sambil memandang langit dengan pemandangan laut yang menghampar di sudut mata. ahhh, heaven!

pemandangan dari atas bukit     tiduran diatas bukit

Setelah puas bermain di Tanjung Aan, kami pun mencari makan malam. Makanan yang wajib dicoba ketika sedang berada di Lombok adalah ayam taliwang dan plecing kangkung. Akhirnya, kami pun diantar ke sebuah resto yang merupakan pionir dalam menyediakan menu ayam taliwang dan plecing kangkung. Untuk rasa, sesuai dengan namanya, semua masakan Lombok memang bercita rasa pedas. Jadi untuk yang gak suka pedas, bisa minta untuk mengurangi tingkat kepedasannya kalau gak mau besoknya sakit perut :p

Hari kedua adalah hari yang dinanti-nanti. Kami pergi ke pantai Tangsi atau yang populer dengan nama Pink Beach. Butuh waktu 4,5 jam dari senggigi untuk bisa sampai di pantai ini. Dari penginapan kami berangkat sekitar jam 7 pagi dan sampai di pink beach sekitar pukul 11.30. Pantai ini dinamakan Pink Beach karena pasirnya yang berwarna coklat ke pink-pinkan, warna pink ini didapat dari terumbu karang yang sudah mati dan hancur dan bercampur dengan pasir. Inilah mengapa warna pasirnya seolah-olah berwarna pink. Untuk menuju pantai ini, diperlukan perjuangan yang luar biasa, selain jaraknya yang jauh, jalanan ke pantai ini juga rusak berat dan agak licin. Kata guide lokal kami, jarang guide-guide yang mau mengajak turis untuk datang ke pantai ini karena kondisi jalanan yang tidak memadai. selain itu, fasilitas di tempat ini juga tidak memadai. hanya ada satu tukang yang berdagang di pantai ini. mau pipis aja susah, mesti numpang di satu-satunya toilet ala kadarnya yang dimiliki oleh pedagang yang sekaligus menjadi penjaga pantai ini. Sepanjang mata memandang, selain kami, hanya ada satu mobil lagi yang datang ke pantai ini. Kondisi pantai disini benar-benar panas terik dan gersang, tapi pemandangan pantai ini bagus banget! Tenang dan gak ada ombak. Duh! beneran jatuh cinta nih gw kayaknya sama Lombok. Kalau mau main ke pink beach, pastikan kamu bawa bekal makanan dan minuman yang memadai ya kalau gak mau kelaparan dan dehidrasi selama bermain di pantai ini 😀

pink beach      pink to the beach

Oh iya, di Pink Beach ini juga ada sebuah bukit. Namanya bukit Tangsi. Butuh perjuangan untuk naik keatas bukit ini. Selain terjal, berbatu dan berdebu, udara yang sangat terik lumayan bikin ngos-ngosan untuk bisa sampai ke puncak bukit. Diatas bukit Tangsi ada sebuah gardu seadanya yang sengaja dibuat untuk bisa berteduh dari serangan sinar matahari yang mampu bikin kulitmu terbakar. Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk bisa sampai diatas bukit, tapi pemandangan yang disajikan dari atas bukit mampu membayar seluruh penderitaanmu hari itu. Sumpah, keren banget! gak percaya? Nih liat foto dibawah ini. Kamu bisa makan siang di gardu ini dengan pemadangan laut yang luar biasa. Selain itu, di tempat ini kamu juga bisa ngambil foto keren seperti dibawah ini. Siap untuk uji nyali? Belum pernah kan foto di ujung jurang dengan pemandangan kayak dibawah ini? Meleset dikit, gw udah tenggelam di laut Tangsi mungkin hahahahha…

dari bukit tangsi       diatas bukit

Setelah makan siang, kami pun turun dari bukit Tangsi lalu naik perahu ke Pantai Sebui. Untuk menyewa perahu, pastikan guide lokal sudah bikin janji dulu dengan abang pemilik perahunya ya, karena kalau gak janjian dulu, dijamin gak akan ada perahu yang stand by di Pink Baech untuk bisa mengantarmu kesana. Jujur aja, gw kepo berat sama Pantai Sebui ini, konon kata guide lokal kami, belum banyak turis dan guide yang tau tentang pantai ini. Soalnya pantai ini adalah salah satu ‘hidden beach’ yang dijanjikan guide kami waktu itu. Untuk ke pantai ini, sewa perahunya gak mahal kok, hanya 100 ribu untuk satu perahu dan bisa muat untuk 4-5 orang. Spanjang perjalanan dari Pink beach ke Sebui Beach, kami bisa melihat banyak ubur-ubur yang berenang-renang di permukaa air. Bahkan sempat beberapa kali menangkap ubur-ubur yang berada di dekat perahu kami.

Begitu kami sampai di pantai Sebui, OMG! benar apa yang dikatakan guide kami, pantai ini benar-benar hidden beach! Bayangkan saja, gw merasa seperti sedang di pulau pribadi, karena emang gak ada seorang manusia pun disitu kecuali kami! Disitu kami bisa puas berenang di pantai yang airnya jernih dan bebas ombak, berjemur sampai gosong, loncat-loncat diatas pasir, lari-larian di pantai. Oh, pantai ini pun langsung masuk kedalam salah satu pantai favorit gw! Coba deh kamu lihat awan di Lombok saat siang hari. Aduh! lucu-lucu dan menggemaskan. Mana ada awan putih , bersih dan terlihat seperti dekat begitu kalau di Jakarta. Oh,God! Rasanya gak ingin deh kembali ke Jakarta lagi! *dilempar boss pake brankas* >.<

sebui 4       sebui 6

sebui 5                                 sebui 2

sebui1        sebui 3

Hari ketiga kami kembali lagi bermain-main di pantai. Di hari ketiga ini, kami bermain ke 3 Gili yang berada saling berdekatan dan bersebrangan. Oh iya, orang Lombok menyebut pulau itu Gili. Untuk bisa main ketiga gili ini, kita harus menyewa perahu lagi. Agak mahal memang, kalau gak salah sekitar 400 ribu-an untuk satu perahu yang ukurannya lumayan besar. Rencananya kita mau snorkeling di Gili nanggu, Gili kedis, dan Gili sudak. Jangan bandingkan terumbu karang di Lombok dengan di karimun jawa, apalagi di Bunaken. Jauh banget deh. Terumbu karang di Lombok sudah banyak yang mati,  kalaupun ada, itu pun kecil-kecil tak beraturan, karena baru dibudidayakan kembali, dan kebanyakan hanya berwarna pink pucat, tapi ikan-ikan disini luar biasa besar-besar, tidak seperti di karimun jawa yang kebanyakan ikan nemo berwarna warni. Ikan-ikan itu berkerumun, memperebutkan remah-remah. Sebagian menggigiti tangan. Gw pengin banget  menyentuh ikan-ikan itu, tetapi semuanya sangat gesit. Ada ikan yang berukuran besar, berbentuk persegi, pipih, yang membuat gw kagum. Saat gw snorkeling di Gili nanggu, kebetulan saat itu sedang menjelang pasang jadi arusnya kuat sekali, bahkan untuk kembali ke pantai saja mesti berenang sekuat tenaga sampai lemas tapi tetap saja terseret arus sampai ke tengah lagi. OMG!

snorkling        smorkling 2

Hari keempat kami bermain ke Gili air, lagi-lagi kami snorkeling disana. Berhubung gw masih trauma sama acara snorkeling di hari sebelumnya yang benar-benar menguras tenaga dan bikin gw langsung tumbang di kasur pas malam harinya, gw membatasi diri hanya setengah jam untuk snorkeling dan berenang di tengah-tengah lautan yang arusnya masih saja kencang itu. Gw lebih memilih berleyeh-leyeh di salah satu kafe yang ada disitu sambil menunggu kedua teman gw yang masih keranjingan snorkling itu. Gw suka sama suasana di Gili Air. Lebih sepi dan lebih tertib. Mungkin karena pengunjungnya lebih banyak orang-orang bule daripada orang-orang lokalnya. Kebanyakan dari bule-bule itu juga hanya tidur-tiduran sambil membaca buku, ada yang berjemur, ada pula yang masih penasaran untuk snorkeling. Disaat bule-bule itu mengagumi kulit gw yang berwarna tanned, sambil berjemur buat mendapatkan warna kulit coklat eksotis seperti gw *wink-wink*, gw malah panik. Gawat deh nih, kudu bayar dokter kulit buat balikin ke warna awal biar warnanya gak buluk gini wkwkwk T_T

GILI AIR  gili air 2

Setelah puas bermain di Gili Air, kami pun langsung menyebrang ke Gili Trawangan. Rencananya di malam terakhir ini kami mau menginap disana. Well, gw kudu mengacungkan jempol sama guide yang gw sewa. Beliau tau banget penginapan seperti apa yang kami butuhkan. Kami disewakan sebuat Villa and guest house yang jauh dari keramaian milik seorang bule yang merupakan teman dari guide kami. Untuk menginap semalam disini kami hanya membayar 600ribu/malam. Sebuah harga yang relatif murah untuk Gili Trawangan yang terkenal serba mahal! Fasilitasnya? Untuk sebuah penginapan ber-AC ala bule yang super bersih, dengan penataan toiletries yang oke punya, dilengkapi dengan air panas, kolam renang, satu tempat tidur ukuran double+satu tempat tidur ukuran single, brankas untuk menyimpan barang berharga, tv+dvd player dan sarapan pagi ala bule. apa gak mangap tuh? dapat liburan lumayan mewah dengan harga standar :p

Disaat orang-orang menjadikan Gili trawangan sebagai trade mark-nya Lombok dan menjadi tempat yang wajib dikunjungi kalau kita sedang berada di Lombok, gw pribadi agak kurang suka dengan Gili Trawangan yang menurut gw terlalu ramai. Apalagi gw mendapat pengalaman yang kurang mengenakkan disini. Saat makan malam, gw dan teman sengaja memilih resto yang kelihatannya sangan happening dibandingnya resto-resto yang ada di sepanjang jalan Gili trawangan. Gw masih ingat banget, nama restonya Scallywag! Gw dan teman  sengaja memilih resto ini karena kayaknya resto ini ramai dikunjungi orang, terutama bule-bule tapi kok jarang melihat orang lokal yang makan disini. Cuma karena udah merasa lapar dan mengikuti prinsip “kalau rame berarti enak!” maka kami pun memutuskan untuk makan disini.

Belum 10 menit duduk disitu, gw udah dibuat bete sama pelayannya. Pertama, dia ogah-ogahan banget menjelaskan menu yang ada di list. Ya meneketehe sih, itu menu pake judul BEEF FAJITAS WITH FRESH SALSA AND GUACAMOLE. buat orang Indonesia yang gak pernah makan makanan mexico, mana ngeh sih kalo judul menu sepanjang itu ujung-ujungnya adalah gak jauh-jauh dari KEBAB SAPI! Blom lagi nama menunya SPARERIBS, taunya cuma iga babi panggang pake saus BBQ! Pelayannya  gak sabaran banget nungguin kita milih menu, sampai-sampai dia nyuruh gw dan teman gw manggil dia lagi kalau sudah memutuskan mau memesan apa dengan nada yang seolah-olah merendahkan banget. Okelah, gw pikir karena restonya ramai, dia harus melayani secepat kilat. Sementara dia menghampiri pasangan bule di meja sebelah dan tanpa ditanya, dia jelasin satu-satu menunya kepada dua bule itu, sampai sabar nungguin tuh bule milih menu kayak nungguin kaisar ngasih mandat! HANJISSS! Dikira orang lokal gak mampu bayar makan disitu apa? *kepret pake duit logam seplastik*

Makan malam kali itu ditutup dengan kekecewaan mendalam, bahkan untuk minta tagihan aja lamanya setengah mati. Sampai-sampai gw sendri yang menghampiri meja kasir dan langsung bayar sendiri….dan berlalu begitu saja TANPA MEMBERIKAN UANG TIPS! Biar rasa deh tuh, dikata tuh bule-bule murah hati mau ngasih tips? ngarep! Siapa sih yang gak tau kalau di Indonesia tuh bule pelit banget ngasih tips? Paling gak suka deh sama pelayan yang mendewa-dewakan bule dan melecehkan orang-orang lokal. Makan di tempat mahal, habis sampai ratusan ribu, udah gitu makanannya biasa aja, dengan pelayanan yang buruk pula. Mendingan gw makan ketoprak abang-abang di Jakarta deh. Murah meriah plus dapat pelayanan ramah murah senyum! *sigh*

Siapa sih yang gak tau kalau Gili Trawangan adalah PARTY ISLAND? Yeap! Gili Trawangan merupakan surga bagi orang-orang yang punya hobi clubbing. Gimana enggak, sepanjang jalan penuh dengan bar-bar yang silih berganti mengadakan party. Berhubung kebetulan gw sedang berada di Gili Trawangan, gak ada salahnya untuk ikutan party juga. Akhirnya kami memilih salah satu bar yang ada disitu untuk nongkrong-nongkrong cantik. Kalau gak salah namanya Tir Na Nog Bar. Guess what, seumur-umur lihat ‘price list’ harga minuman beralkohol paling murah untuk ukuran bar, ya baru di Gili Trawangan ini. Segelas Liquor hanya dibanderol 35 ribu rupiah! Karena penasaran, akhirnya gw dan teman mencoba untuk memesan margarita yang merupakan campuran tequilla, triple second dan lime. Gw pikir, untuk harga 35 ribu, paling juga margarita abal-abal, ternyata eh ternyataaaaaa…*simpulkan saja sendiri*

Gw juga sempat memesan Ichabod’s Nightmare, campuran blue curacao,gin,rum,tequilla,vodka dan cranberry juice yang ternyata rasanya memang enak. Berarti bartendernya juga bukan bartender sembarangan. Pantas aja Gili Trawangan dijuluki Party Island! Lah mau clubbing gak butuh modal banyak soalnya! :p

margarita        drink

Hari kelima, hari terakhir di Lombok. Rencananya hari terakhir ini akan diisi untuk mengelilingi Gili trawangan sampe ‘khatam’ sebelum diantar ke bandara untuk kembali lagi ke Jakarta 😀

Gili Trawangan bukanlah sebuah pulau yang besar, hanya butuh satu jam dengan menggunakan sepeda untuk bisa mengelilingi Gili Trawangan. Di Gili Trawangan tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor, jadi transportasi yang digunakan disana hanyalah cidomo (delman) dan sepeda saja. Untuk menyewa sepeda disana tidaklah sulit, cukup bayar 50 ribu rupiah untuk bisa menyewa sepada selama 24 jam. Tapi jangan dianggap enteng, jangan berharap jalanan di Gili Tarawangan itu sudah mulus oleh aspal sehingga sepeda dengan bebasnya bisa melenggang. Sebagian besar kontur jalanannya masih berpasir. Bisa dibayangkan dong, mengayuh sepeda diatas pasir bukanlah hal yang mudah. Gw aja berkali-kali nyaris jatuh. Mending kalau sambil bersepeda, udaranya adem gitu. Ini sih udaranya ampun-ampunan deh. Matahari bersinar terik luar biasa, dan sukses membuat kulit gw makin gosong.

Finally, 5 hari sudah dihabiskan di Lombok. Liburan yang sangat berkesan bagi gw dan kedua teman gw. Ada manisnya, ada pahitnya, ada asemnya juga. Ambil hikmahnya aja. Indonesia punya tempat-tempat yang indah untuk dikunjungi. Saran gw, selama di Lombok, jangan lupa untuk mencoba makanan khas sana seperti nasi balap puyung dan sate rembige. DI hari terakhir gw benar-benar menyadari bahwa gw benar-benar sudah jatuh cinta dengan Lombok. Masih banyak tempat-tempat yang belum gw kunjungi. Air terjun di kaki gunung rinjani, gili meno, dan banyak lagi. Semoga someday bisa balik lagi kesana. Ingin ke Pantai Sebui lagi. Semoga…… 🙂

 

 

Advertisements

One thought on “Suatu tempat di Indonesia tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s