Jadi korban kecelakaan kapal traumatik

Hidup dan mati manusia itu memang cuma Tuhan yang tau. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dan bisa terlepas dari maut merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Ya, Tuhan itu baik. Sungguh teramat baik. Jujur, saat gue ngetik cerita ini pun tangan gue masih gemetar. Sepertinya gue mengalami Syndrom pasca kecelakaan yang puji Tuhan gak memakan korban jiwa. Tapi sepertinya, gue sebagai korban dan saksi kecelakaan mengalami trauma yang gak bisa gue jelaskan. Tadi siang tanpa ada kejadian apa-apa dan saat sedang sendirian, mata gue tiba-tiba meneteskan air mata dan tangan gue mulai gemetar. Gue berharap semoga aja syndrom pasca kecelakaan ini gak berlangsung lama dan kecelakaan ini gak membuat kapok untuk tetap melakukan hobi jalan-jalan yang amat gue cintai ini. Dan tanggal 3 Mei 2014 merupakan hari yang gak akan terlupakan buat gue.

Cerita ini berawal dari rencana perjalanan gue dan 2 teman lainnya, sebut saja Putut dan Aria untuk berkunjung ke Pahawang. Sebuah pulau di daerah Lampung Selatan. Pada akhirnya perjalanan ini diikuti oleh 15 orang lainnya termasuk Lola, seorang teman yang gue kenal waktu melakukan trip ke Karimun Jawa. Total tim kami yang berangkat ada 19 orang, termasuk seorang supir.

Sekitar Jam 10 malam mobil mulai bergerak dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Kami tiba di pelabuhan Merak sekitar pukul 12-an. Saat itu antrian kendaraan untuk masuk ke dalam kapal lumayan padat, padahal kapal masih belum selesai bersandar. Akhirnya Putut memutuskan untuk membayar seorang calo sebesar 80 ribu rupiah supaya mobil kami mendapatkan prioritas untuk bisa masuk duluan ke dalam kapal, soalnya kalau gak bayar calo, nunggunya bisa lama, nyaris berjam-jam. Begitu kata si Putut. Awalnya gue sempet rada ngomel, bayar gitu aja kok mahal amat. Tapi pada akhirnya, keputusan itu anak lah yang akhirnya menyelamatkan mobil kami (beserta supirnya!).

Setelah membayar, si calo benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Mobil kami mendapat prioritas pertama untuk bisa segera masuk ke dalam kapal yang sebelum naik sempat gue baca namanya KM MARISA NUSANTARA. Setelah parkir di dek bawah, kami semua segera turun dari mobil untuk naik ke dek penumpang dan memutuskan untuk duduk di dek ketiga, di sebuah kafetaria terbuka yang berisi kursi dan meja-meja besi yang di las ke lantai sehingga tidak bisa digeser. Beberapa dari kami memutuskan untuk duduk di ruang VIP. Tadinya gue berpikir untuk masuk ruang VIP juga, toh tinggal nambah 10 ribu rupiah ini, tapi duduk di kafetaria juga lumayan nyaman, lagipula penyebrangannya tidak lebih dari 2,5 jam ini, akhirnya gue membatalkan niat untuk duduk di ruang VIP dan bergabung dengan yang lainnya di kafetaria.

Sekitar jam 1 dinihari kapal pun mulai berlayar. Bahkan gue sempat berkomentar mengenai kondisi laut yang keadaannya begitu tenang  jadi di dalam kapal gak terasa ‘goyangannya’. Bangku-bangku di kafetaria ini lumayan dipenuhi penumpang. Ada yang sambil ngopi, ada yang bermain dengan gadget-nya, ada yang menidurkan kepalanya diatas meja dengan kedua tangan dilipat sebagai alas kepala. Sementara gue,putut dan ceweknya asik ngobrol. Si Lola asik ngobrol juga dengan turis Jepang yang ikut dalam trip kami di meja sebelah. Kapal pun berlayar dengan tenang, sempat turun hujan juga yang membawa angin sejuk ke dalam kafetaria.

Tak lama berselang,kira-kira pukul 2.30, Pak Toni, supir yang kami bawa bilang mau turun ke dek bawah buat periksa mobil. Sempat jadi bahan tertawaan kami karena dia berjalan ke arah yang salah, namun kemudian balik lagi melewati kami karena dia sadar sudah salah arah. Dia kemudian turun melalui pintu dibelakang kafetaria. Dan tiba-tiba BRAKKKKKKKKKKKK…terdengar suara benturan keras dan gue melihat semua orang yang duduk di kafetaria jatuh terhempas dengan kerasnya ke lantai, sampai kursi dan meja yang di las pun terlepas dan bergeser dengan hebatnya. Hanya orang-orang yang duduk di meja gue dan meja sebelah gue yang gak terjatuh karena kami langsung refleks berpegangan pada sisi samping meja yang untungnya las-nya gak lepas. Kapal pun langsung miring ke kiri. Sesaat gue langsung sadar bahwa sudah terjadi tabrakan dan waktu itu gue berpikir kalau kapal kami nabrak karang. Gue pun bergegas berdiri dan melihat kenyataan bahwa kami ditabrak kapal lain di ujung agak depan karena gue sempat melihat monyong kapal yang menabrak kami dari sisi samping kanan itu ( yang kemudian diketahui bahwa itu adalah kapal berbendera kamboja dengan nama QI HANG). Sempat terdengar teriakan “awasss..mau ada tabrakan kedua!” lalu ” semua loncat ke airr..”

Kondisi di dalam kapal langsung panik, dan yang lebih mengherankan, orang yang paling panik adalah ABK-nya sendiri! Putut dan Aria tanpa dikomando langsung turun ke bawah untuk cari informasi. Gue dan Lola langsung berinisiatif untuk mencari jaket pelampung yang TERNYATA hanya tersedia di ruangan VIP!!! Itu pun gue sampai sikut-sikutan sama ABK-nya saat ambil jaket pelampung, masa gue udah pegang jaketnya, dengan teganya itu ABK main rebut aja. Ya jelas gue ngamuk! Bukannya nolongin para penumpang yang udah histeris dan panik, eh malah barbar dan egois menyelamatkan diri sendiri. Saat kembali ke kafetaria gue melihat tim yang gue bawa rata-rata sudah mendapat jaket pelampung. Gue lihat Putut sudah bergabung dengan kami lagi di kafetaria, diam-diam gue tanya kondisi di bawah, dia cuma bilang, gak apa-apa kok, cuma robek kecil dan minta gue tetap tenang supaya yang lain gak panik dan jangan sampai ada yang terpisah dari tim tapi entah kenapa gue malah gak percaya kalau “GAK ADA APA-APA”.

Gak lama kemudian, Aria kembali ke kafetaria dengan napas terengah-engah lalu menghampiri gue. Gue langsung berondong Aria dengan pertanyaan, gimana kondisi di bawah? kena dimana? parah gak? kenapa gak ada informasi dari pihak kapal? evakuasinya gimana? ini kapal udah miring loh, dll dan dia menjawab jujur dengan muka khawatir, ” sepertinya kita ditabrak kapal lain, dan badan kapal robek parah. Kapal yang menabrak pun sudah kabur. Pastikan semua tim kita pakai jaket pelampung dan kalau bisa, walaupun udah pakai jaket pelampung  tetap pegang satu jaket lagi untuk cadangan takut kemungkinan buruk terjadi, soalnya air sudah mulai masuk. Jrengggg!!! Bisa dibayangkan betapa horornya kondisi saat itu, tangan gue pun mulai gemetar hebat. Sempat berpikir, bisa gak ya gue keluar dari kapal ini dalam keadaan hidup?

Kondisi di dalam kapal benar-benar mencekam, semuanya panik, semua histeris, segerombolan ibu-ibu mulai menangis, ada yang membaca doa, nyaris semua sibuk menyalakan handphone untuk mengabari keluarga dengan sinyal seadanya. Sementara tim kami semua malah berusaha tetap tenang dan mengumpulkan gadget kami dalam sebuah plasik besar lalu diikat supaya kalau memang terpaksa nyemplung setidaknya alat komunikasi kami enggak kenapa-kenapa. Melihat tim kami yang berusaha tetap tenang dan terkoordinasi dengan baik, beberapa ibu-ibu mendekati kami dan ikut bergabung dalam gerombolan kami.

Kapal masih dalam kondisi miring saat tim kami memutuskan untuk naik ke geladak atas demi keamanan kami semua. Terlihat laut yang sangat tenang namun gelap. Tak berapa lama kemudian, seluruh penumpang sudah terlihat berada diatas geladak. Masih dalam kondisi panik, tiba-tiba mesin kapal hidup dan berjalan dalam kondisi miring walau dengan kecepatan yang lambat. Gue pun memeriksa keujung kapal untuk melihat seberapa jauh dari daratan. Dari kejauhan terlihat daratan dengan lampu-lampu yang kami asumsikan kalau itu adalah pelabuhan Bakauheni. Gue pun berdoa semoga Tuhan memberikan kapal ini cukup waktu untuk bisa sampai di Bakauheni, lemas rasanya lutut ini membayangkan kalau sampai kapal ini karam sebelum kami sampai di pelabuhan.

Selang 45 menit kemudian kapal pun bersandar di dermaga 5 Bakauheni, dermaga khusus emergency. Putut memberitahu semua orang dalam tim supaya kami turun belakangan, karena kalau kami ikut berdesakan turun dengan penumpang yang panik, takutnya malah terinjak dan malah celaka. Akhirnya setelah penumpang yang panik berebutan turun, kami pun turun ke dek bawah dengan tenang dan jadi tidak tenang ketika ternyata di dek bawah air pun meluap-luap masuk. Hal ini membuat para pemilik truk dan mobil yang lain pun bertambah panik dan dengan terburu-buru mengeluarkan mobil.

Begitu banyak kendaraan yang rusak berat dan kami pun bersyukur mobil kami karena berada paling depan, tidak mengalami kerusakan apapun, bahkan lecet pun tidak. Dari 47 kendaraan yang ada, 24 diantaranya rusak berat. Pak toni pun selamat karena ketika kecelakaan terjadi, beliau ada di bawah dan melihat lambung kapal robek. Saat mobil-mobil bergeser dengan hebatnya, dia saking kagetnya langsung melompat ke dalam mobil bak terbuka dan itu yang membuat dia terselamatkan karena tidak terhimpit mobil-mobil disamping kanan-kirinya. Malam itu pak Toni benar-benar shock dan mengalami trauma yang lebih parah dari kami semua.

Bersyukur sekali kami semua bisa melanjutkan perjalanan setelah kecelakaan itu. Gue pun sempat merinding membayangkan bagaimana kalau kecelakaan itu terjadi siang hari, disaat kapal penuh dengan kendaraan dan ratusan penumpang? Sementara jaket pelampung pun terbatas dan sekoci cuma ada DUA?!!!!!!!! Itu pun sekocinya belum tentu bisa diturunkan karena rantai pengaitnya sudah karatan. Malam itu hanya ada 85 penumpang dan pihak kapal pun tidak ada usaha untuk mengevakuasi, kami semua mengevakuasi diri kami sendiri. Jaket pelampung hanya ada sekitar 100-an, bagaimana kalau saat itu ada 200-300 penumpang di dalam kapal? Ah entahlah, membayangkannya saja gue udah ngeri. Waktunya Tuhan memang tepat, andai saja kecelakaan itu terjadi disaat kapal itu penuh penumpang dan kendaraan dan andai saja kendaraan di dalam tidak bergeser hebat ke sisi kiri pada saat kecelakaan, besar kemungkinan kapal Marisa Nusantara karam sebelum sampai di dermaga 5.

Terimakasih Tuhan untuk pertolonganMu.

kondisi kapal pasca tabrakan

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Jadi korban kecelakaan kapal traumatik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s